Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Surat Kalbu Untuk Mu

(Arena Nur)

Malam ini tidak pernah sama dengan malam sebelumnya, saat aku masih di hatimu.
Aku masih terbaring lemah dengan segala ikatan yang menjeratku. Memandang purnama di sebalik daun jendela. Aku menikmatinya seorang diri dalam malam pekat sepi tanpa siapapun di sampingku. Semua terlelap dalam mimpi-mimpi yang sengaja di ciptakan. Namun kini aku merasa, Tuhan lebih dekat denganku.
Ceriaku semakin memudar. Aku berkamuflase menjadi seorang yang terlahir kembali dengan balutan salju yang dinginnya tiada terkira. Hariku bertambah hening di atas sikap diamku dalam seribu bahasa. Aku memang tak pernah ciptakan tangis lagi, terkecuali saat aku bersimpuh di hadapan-Nya dalam doa panjang.

Malam ku perlambat kepergiannya.
"Mengapa?"
Ya, selalu bertanya mengapa pada hatiku. Tapi jawaban yang aku temukan adalah kenyamanan. Kenyamanan dimana aku tak harus memakai topeng ketegaran, dimana aku tak harus membendung setiap debit air mata yang ingin aku alirkan melalui kedua celah labium mata dan pipiku, dimana aku tak harus berpura-pura tertawa sedang tangis ku bendung sendiri, mungkin juga dimana aku tak ingin melihatmu bahagia sementara alasan bahagiamu sudah bukan aku-lagi-.

Rabu, 05 Februari 2014

Pelacur itu, Ibuku!


Oleh : Arena Nur 

Juara I Kategori Cerpen Audisi Penulis Muda Subang Berbakat 2013 


Cinta tertawan dalam bingkai lelah ibu. Ia terbaring tepat disampingku. Kerut dahi yang bercerita, merana, berteriak padaku “Nak, ibu lelah.!” itu yang selalu aku lihat dari pejam matanya.

Ini bukan malam hari, bukan waktunya untuk terlelap melepaskan lelah. Ini sudah pagi, bahkan embun nyaris pergi. Tapi bagi ibu, ini tak ubahnya dengan pukul sembilan malam yang sudah waktunya untuk tertidur pulas di perbaringan malas. Ya, dunia ibuku jungkir balik. Malam dijadikannya siang, begitu pun dengan siang yang ia ubah menjadi malam. Seolah ibu tak pernah bersua dengan mentari.

Kupu-kupu malam, begitu julukan yang tetangga dan teman-temanku sematkan untuk ibu. Terdengar lebih hina. Tapi, ya sudahlah, bagiku itu lebih menis dibandingkan dengan panggilan ‘pelacur’.

Aku bergegas pergi untuk bersiap-siap untuk pergi sekolah. Ku bentangkan kain yang semula membalut tubuhku yang mungil, ku selimuti tubuh ibu yang melipat menahan dinginnya pagi. Tergeletak secarik kertas di meja makan, tertulis untaian pesan dari ibu.



Ara, putri ibu yang cantik. Ibu sudah menyiapkan nasi goreng untuk sarapanmu, nak. Maafkan ibu bila disaat kamu meyantapnya, nasi itu sudah tidak lagi hangat. Ibu juga buatkan telur matahari untukmu. Uang sakumu ada di tempat pinsilmu. Jangan malas belajar ya sayang, ibu menyayangimu.



Pesan itu yang selalu membuatku tersenyum, membalut luka ketika malam ibu tak mendekapku. Ia masih sempat untuk membuatkanku sarapan. Aku tahu, saat membuat nasi goreng ini pasti mata ibu setengah terpejam. Aku hanya mampu membayar sepiring nasi goreng ini dengan kecupan di dahi ibu.

“Ara sayang ibu.” Ucapku dengan halus.

Sabtu, 01 Februari 2014

Merenda Hari Esok

Penulis : Aji Sutiono

Juara II Kategori Cerpen Audisi Penulis Muda Subang Berbakat 2013


Suara bising para pejabat ibu kota telah memenuhi pangkal pendengaranku. Mereka datang ke tanah ulayatku dengan niat membangun peradaban baru, katanya. Maka pada hari itu, dari tokoh agama, kepala desa, sampai preman-preman kampung –sebagai perwakilan pemuda dusun– ikut andil di balai desa. Bersama orang-orang kota itu, mereka memperdebatkan pembebasan tanah. Menurut penjelasan mereka, bahwa rencananya di desa kami akan dibangun sebuah kawasan industri. Katanya lagi, agar kami dapat merasakan nikmatnya manfaat dari kemajuan industri. Selain itu, agar tingkat pengangguran semakin berkurang.

Hari itu pun seluruh perwakilan tokoh menyetujuinya. Tanpa memikirkan dampak jangka panjang, kepala desa bernegosiasi dengan para warga untuk menentukan harga tanah serendah-rendahnya. Sebagaimana telah diketahui, penduduk desa hanya akan menerima segala apa yang telah diutarakan Pak Lurah. Dan itu artinya, kami harus bersiap kehilangan tanah warisan milik nenek moyang kami. Bukan hanya itu, kami pun akan kehilangan pekerjaan sebagai petani. Terlebih pada nasib ayahku. Semua orang pun tahu, aku sendiri memahami, ayahku akan sulit dipisahkan dengan pekerjaannya sebagai petani tulen. Baginya, hidupnya, dan mungkin juga keyakinan akan masa depannya, hanya ada di atas sebidang tanah; bercocok tanam.

Bagi sebagian orang yang memiliki tanah sendiri, kemudian mendapat jatah bayaran dari hasil gusuran pabrik, akan tertawa dengan bahagia. Setidaknya mereka akan dengan mudah membangun los kontrakan bagi masa depan anak-anaknya.  Karena dipastikan, di desa kami tidak hanya akan dihuni oleh orang-orang pribumi saja, melainkan akan banyak berdatangan para pengunjung yang sengaja merantau dalam rangka mencari kerja. Sialnya, ayahku tidak memiliki sebidang tanah itu. Selama ini ayahku hanya bertani menggarap tanah orang lain. Ayahku mulai jatuh dengan pekerjaannya. Apa boleh buat, aku harus siap siaga membantu kehidupan keluarga dengan mencari kerja.