(Arena
Nur)
Malam ini tidak pernah
sama dengan malam sebelumnya, saat aku masih di hatimu.
Aku masih terbaring
lemah dengan segala ikatan yang menjeratku. Memandang purnama di sebalik daun
jendela. Aku menikmatinya seorang diri dalam malam pekat sepi tanpa siapapun di
sampingku. Semua terlelap dalam mimpi-mimpi yang sengaja di ciptakan. Namun
kini aku merasa, Tuhan lebih dekat denganku.
Ceriaku semakin
memudar. Aku berkamuflase menjadi seorang yang terlahir kembali dengan balutan
salju yang dinginnya tiada terkira. Hariku bertambah hening di atas sikap
diamku dalam seribu bahasa. Aku memang tak pernah ciptakan tangis lagi,
terkecuali saat aku bersimpuh di hadapan-Nya dalam doa panjang.
Malam
ku perlambat kepergiannya.
"Mengapa?"
Ya,
selalu bertanya mengapa pada hatiku. Tapi jawaban yang aku temukan adalah
kenyamanan. Kenyamanan dimana aku tak harus memakai topeng ketegaran, dimana
aku tak harus membendung setiap debit air mata yang ingin aku alirkan melalui
kedua celah labium mata dan pipiku, dimana aku tak harus berpura-pura tertawa
sedang tangis ku bendung sendiri, mungkin juga dimana aku tak ingin melihatmu
bahagia sementara alasan bahagiamu sudah bukan aku-lagi-.